Pengalaman Seru Berwisata Air Terjun Kedung Malem / Slampir Kare Madiun

slampir

Ini adalah pengalaman saya saat pertamakali rekreasi ke Air Terjun Kedung Malem / Slampir pada 17 November 2018. Perjalanan saya awali setelah berkunjung ke Monumen Kresek, terbesit keinginan untuk mengunjungi destinasi wisata lain di Gunung Wilis. Kebetulan teman saya pernah mengunjungi tempat tersebut, dan kamipun bergegas pergi kesana.

Lokasi air terjun terletak di Branjang, Kare, Madiun, perjalanan ke lokasi sangat menyenangkan, di kiri dan kanan banyak pemandangan-pemandangan yang indah dan alami, sangat menyejukkan hati dan pikiran. Semakin dekat dengan air terjun jalan berubah menjadi jalan kecil, yang berisi 2 jalur beton, pastinya tidak dianjurkan untuk mobil melaluinya. Setiap ada penduduk yang lewat kami saling melempar senyuman dan bertegur sapa, penduduknya memang sangat ramah walau tidak saling kenal.

Setelah melalui jalan berkelak-kelok naik turun, sampailah kami ke pintu gerbang yang bertuliskan Air Terjun Kedung Malem, saya pun sempat ragu karena sebelumnya saya hanya tahu kalau namanya hanya Slampir. Pintu masuknya juga sangat kecil disitu hanya ada rumah penduduk dan parkirnya sempit, mungkin belum pengembangannya belum sempurna. Kamipun meminta ijin dan menitipkan motor kepada seorang ibu-ibu yang sedang masak disana. Kami meninggalkan hp dan dompet dalam jok motor, dan hanya membawa teropong kecil dan kamera digital.

Kami langsung bergegas melewati jalan turunan menuju ke air terjun. Di pinggir ada plang yang memperingatkan wisatawan untuk tidak ke air terjun saat hujan. Mungkin untuk mengantisipasi bahaya banjir bandang dari atas gunung. Dalam perjalanan kami sempat melihat tupai berlari dan memanjat pohon, serta mendengar suara-suara burung yang bersiul. Disekeliling jalan ada pohon karet yang sedang ditampung getahnya, serta pohon pinus yang sangat tinggi, menambah kesejukan udara dan suasana yang sangat alami. Di setengah perjalanan ada aliran air terjun kecil dengan tempat duduk yang warna-warni. Dibawahnya lagi ada gubuk kecil terbuat dari kayu, biasanya untuk beristirahat bagi yang sudah capek. Sekitar 50 meter dibawah gubug barulah sampai ke sungai.

air terjun slampir

Perjalanan dari pintu masuk sampai ke dasar sungai kurang lebih 300 meter, tentunya sangat melelahkan bagi mereka yang kurang olahraga. Tapi perjalanan itu tidak terasa berat, malah sangat cepat dan rasanya ingin berlama-lama berjalan di sekitar hutan. Sampai dibawah pasti kalian bingung karena tidak ada air terjun sejauh mata memandang. Ternyata air terjun masih terletak 70 meter lagi ke arah timur.

Kami langsung bergegas menyusuri sungai, melwati bebatuan padas yang licin, melewati pijakan sempit di pinggir tebing, dan melewati jembatan dari pohon kecil yang tumbang, harus bisa jaga keseimbangan kalau tidak ingin tercebur di sungai. Tracknya sangat menantang, cocok bagi mereka yang suka outbond. Bagiku ini sangat menyenangkan, seperti kembali ke masa kecil di desa.

Di lain sisi, kami tetap waspada akan adanya predator hutan yang mungkin bisa menerkam kami sewaktu-waktu, seperti harimau, macan, buaya dll. Di sela-sela pejalanan juga terlihat ular yang mati seperti habis di pukuli dengan batu. Sangat horor, apalagi tempat ini diapit oleh 2 tebing sempit dengan kemiringan ekstrim dan beberapa pohon yang tumbang dari atas tebing, terbayang jika sewaktu-waktu longsor, atau jika ada pohon yang tumbang kebawah. Karena saat itu kami datang pagi-pagi, suasana sangat sunyi, hanya suara gemercik air dan suara burung langka, tidak ada seorangpun disana, sehingga kami tetap waspada akan bahaya yang mengintai.

Pemandangan yang paling bagus buat foto adalah dipagi hari, ketika sinar matahari memasuki sela-sela tebing, jika kamu foto dibawahnya akan terlihat seperti nabi yang mendapatkan wahyu dan bagaikan bulir-bulir cahaya dari surga yang akan menurunkan bidadari dari kayangan.

air terjun slampir

Semua kelelahan akan sirna setelah sampai di air terjun, betapa indah dan megahnya penampakan 2 air terjun yang mengalir, kala itu air tidak terlalu deras, tapi cukup mempesona dan memanjakan mata. Di sela-sela air terjun terdapat batu padas raksasa yang terhimpit, seperti menyumbat aliran air terjun ini, mungkin lontaran batu pada saat letusan gunung wilis purba. Bisa dibilang lokasi air terjun ini cukup sempit diapit oleh tebing berisi batu-batu yang menancap seperti mau jatuh, sehingga kami pun tak berani bersandar di pinggir2 tebing. Sayangnya di salah satu sudut tebing, ada coretan2 tebing yang dibuat oleh manusia tak bertanggunga jawab, sehingga mengurangi estetika alam. Suasanyanya memang seperti jaman jurrasic, di sungai akan ada ikan-ikan kecil, dan airnya sangat jernih, kami menyempatkan untuk membasuh muka dengan air yang menyegarkan ini.

Menurutku tempat ini cocok bagi orang yang mencari wangsit, inspirasi, atau semedi. Keheningan dibalut dengan suara alam baik flora dan fauna, benar-benar masih asri dan alami. Fikiran dijamin akan menjadi fresh setelah keluar dari air terjun ini.

bertapa

Setelah puas menelusuri air terjun ini, kami pun pulang, walupun sempat di sengat semut dan tercebur sungai, pengalaman ini akan menjadi petualangan yang mengayikkan untuk diceritakan kepada siapapun. Semoga saja ada stasiun tv yang mendokumentasikan keindahan alam yang tersembunyi di balik gunung wilis ini, supaya lebih maju dan berkembang menjadi wisata andalan Kabupaten Madiun.

Baca juga Menguak Tanjakan Mengerikan di Gua Maria Klepu Ponorogo

1 Response to "Pengalaman Seru Berwisata Air Terjun Kedung Malem / Slampir Kare Madiun"

  1. Harus berkunjung ke sini deh kalau suatu saat bisa ke madiun

    ReplyDelete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel