Cara Menemukan Kebenaran yang Sejati dalam Hidup

makna kehidupan

Sebagian besar dari kita terlahir dari orang tua yang beragama, baik itu Islam, Kristen, Hindu, Budha, Katholik, Yahudi, dan ribuan agama lainnya di berbagai belahan dunia. Sejak kecil kita diajarkan moralitas berdasarkan kepercayaan orang tua kita masing-masing. Kita diajarkan norma baik, buruk, dosa, sebagian besar dari orang tua yang terdoktrin oleh agama orang tua sebelumnya.

Seiring bertambahnya populasi manusia, doktrin itu semakin menyebar dan meluas secara turun temurun. Hingga sekarang sekitar 84% populasi dunia adalah orang religius/theis, dan sisanya adalah orang netral, tak beragama/atheis. Lalu siapakah yang benar diantara ribuan agama di dunia? Apakah agama benar semua atau salah semua? atau justru orang atheis yang benar?

Setiap orang yang taat pada agama tertentu pasti dalam lubuk hati yang terdalam menganggap agamanya adalah jalan kebenaran dan yang lainnya adalah jalan yang sesat, walaupun tidak diungkapkan secara terbuka oleh orang lain yang berbeda keyakinan.

Mengapa demikian, tentunya karena alasan perdamaian, pada dasarnya manusia ingin hidup damai, karena secara logika hidup damai membuat hidup kita lebih tenang dan terhindar dari permusuhan yang merugikan kedua belah pihak.

Secara publik, suatu agama akan menghormati agama lain dengan mencari kesamaan diantara semua agama, yaitu sama-sama menyembah Tuhan pencipta langit dan Bumi. Sama-sama mengajarkan moral kebaikan, perdamaian dan hal-hal positif lainnya. Sama-sama berharap akan kehidupan kekal abadi di surga, nirwana, tempat suci yang diyakini tempat para roh kembali kepada Sang Penciptanya.

Sebagian besar orang memilih beragama karena memberikan tujuan dalam hidup mereka, memberikan mereka komunitas, memberikan pengertian akan benar dan salah, memberikan jawaban akan semua pertanyaan tentang kehidupan.

Mereka diajarkan hanya untuk percaya saja tanpa melakukan pembuktian apakah kepercayaan itu benar atau salah.

Terkadang banyak disodorkan bukti-bukti tentang kebenaran agama tertentu mereka yang menganut agama itu pasti langsung dipercaya tanpa diteliti lebih jauh. Parahnya adalah jika bukti itu adalah kepalsuan atau kesalahan dari pemikiran mereka sendiri.

Jadi dengan pola pikir religius, otak kita cenderung menginginkan keyakinan kita supaya sesuai realitas. Menerima bukti-bukti tanpa berfikir 2 kali untuk mempercayainya. Menafsirkan ayat-ayat kitab dengan interpretasikannya sesuai dengan realitas terkini supaya iman tetap terjaga dan semakin kuat.

Itulah kesalahan yang sering terjadi pada pola pikir manusia yang terdoktrin. Mereka tidak rela bila keyakinan yang diyakini dengan sepenuh hati dan usaha ibadah yang dijalani selama bertahun tahun berakhir dengan sia-sia.

Akhirnya mereka memilih untuk menutup pikiran terhadap hal-hal baru yang menjauhkan diri dari keyakinannya. Mereka sepenuhnya taat akan ajaran agama, dan menolak pengetahuan dari manusia. Mereka menganggap akal manusia tidak cukup untuk memahami Tuhan, akal manusia terbatas untuk memahami alam semesta. Sehingga mereka cukup pasrah tanpa mau berfikir kritis.

Percaya adalah hal positif bila dilakukan dalam lingkup sosial, kita percaya satu sama lain untuk menjalin hubungan baik antar sesama manusia.

Namun, kepercayaan itu tidak bisa dijadikan landasan untuk mengungkap kebenaran yang sesungguhnya.

Anda boleh percaya ibu anda adalah ibu anda yang sebenarnya, karena cinta kasihnya yang merawat dari kecil sampai dewasa. Tapi hal ini tidak bisa dijadikan landasan bahwa ibu anda adalah ibu yang melahirkan anda. Bisa jadi anda adalah anak pungutan atau hasil adobsi dan ibu anda menyembunyikannya selama ini. Jika anda ingin membuktikan kebenaran itu, anda harus melakukan tes DNA dengan ibu anda.

Ini adalah contoh sederhana dari kesalahan pola pikir kita yang menganggap kepercayaan sebagai kebenaran.

Jalan satu satunya untuk mengungkap kebenaran adalah bukti yang dapat diverifikasi dan konsisten dengan pengamatan.

Sebagai respon akan ini, sains menjadi pelopor akan pencarian kebenaran. Ilmuwan diajarkan untuk skeptis dan berusaha sebisa mungkin untuk meruntuhkan teorinya sendiri, dengan pengamatan dan pencarian bukti.



Sangat kontras dengan agama yang mencari pembenaran apapun supaya kitabnya tetap relevan dengan perkembangan jaman.

Para pemuka agama yang takut bila kredibilitas agamanya hancur berupaya mencampur adukkan sains dan agama. Contohnya yang sedang marak adalah dari agama Islam, yang para ustadnya kerap mengklaim bahwa Alquran yang berusia 1500 tahun telah lebih dulu menyebutkan beberapa temuan Ilmuwan seperti teori big bang, lubang hitam, gravitasi, dll.
Namun tidak dengan teori evolusi.

1500 tahun lalu pemikiran manusia masih primitif, terlihat dari cara penyampaian dan gaya bahasa yang tertulis dalam kitab tersebut. Karena penyampaiannya sangat dasar dan kurang detail sehingga menghasilkan bias yang bisa ditafsirkan sesuai keinginan penafsir. Tentunya hanya otoritas yang boleh dipercaya menjadi penafsir.

Beda dengan sains, tidak ada otoritas yang menaungi. Semua orang bisa bebas mempelajari, membuktikan dan melakukan pengamatan, tidak ada yang membatasi pikiran pada teori tertentu. Jika suatu teori benar pasti didapati hasil yang sama bagaimanapun pengamatan dan bukti yang didapatkan.

Karena agama sudah menguasai lini budaya, ekonomi, ideologi, otoritas. Sangat sulit jika agama hilang begitu saja, butuh kesadaran yang mendalam dari setiap manusia di planet Bumi.

Mungkin suatu saat agama agama akan menjadi minoritas dan mungkin ditinggalkan oleh peradaban masa depan yang lebih maju.

Jadi hanya dengan Sains kita bisa menemukan jalan kebenaran di hidup ini. Walau bertolak belakang dengan dugaan kita sebelumnya, kita diajak untuk lebih bijaksana dalam hidup ini.

Kita terbuat dari trilyunan atom, fikiran kita hanyalah energi yang dihasilkan oleh reaksi kimia di otak.

Nitrogen, Kalsium, Iron, dan Karbon yang membentuk tubuh kita berasal dari bintang.

Kita dan alam semesta adalah satu meterial, bisa dikatakan kita adalah kesadaran alam semesta itu sendiri.

Kita telah tertidur selama 13,7 milyar tahun mulai dari big-bang hingga materi berovolusi menjadi bintang, planet dan makhluk hidup.

Kita berbagi nenek moyang yang sama dengan pohon, virus, bakteri, hewan, jamur.

Kita adalah primata cerdas, monyet, kera, lemur dan tarsius adalah sepupu terdekat kita.

Dari semua kenyataan ini, tidak ada tujuan tertentu dalam hidup ini. Kita hanyalah hasil evolusi materi secara tidak sengaja.

Hidup hanya satu kali, marilah kita ciptakan tujuan dan makna kehidupan yang lebih baik.

0 Response to "Cara Menemukan Kebenaran yang Sejati dalam Hidup"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel