Inilah Cara Sains Mengungkap Keajaiban Alam Semesta



Kita semua hidup dalam sekejab saja, dalam waktu yang sangat sempit itu kita hanya menjelajahi bagian mahakecil dari keseluruhan alam semesta.Tapi adalah spesies yang selalu ingin tahu, ada banyak pertanyaan yang terfikirkan tatkala manusia memandang langit. Bagaimana kita memahami dunia kita berada? Bagaimana cara kerja alam semesta? Apa itu kenyataan? dan dari mana semuanya berasal? Apakah alam semesta ini diciptakan? Sebagian besar manusia, sangat jarang merenungkan pertanyaan tersebut, tapi sesekali pasti kita pernah mempertanyakannya. Pada dasarnya, semua pernyataan tadi adalah sebuah pertanyaan filosofi, namun filosofi telah mati. Filosofi tidak lagi mengimbangi kemajuan sains, terutama fisika. Ilmuwanlah yang berjasa dan memegang obor penemuan dalam pencarian pengetahuan.

Menurut konsep lama, benda bergerak sepanjang jalur yang jelas dan teratur. Walaupun penjelasan itu cukup untuk kehidupan sehari-hari, tapi pada tahun 1920 didapati bahwa gambaran tersebut tidak dapat menerangkan perilaku yang terjadi pada skala atom. Sehingga diperlukan konsep yang berbeda yang disebut fisika kuantum. Teori kuantum terbukti akurat sangat akurat menggambarkan apa yang terjadi pada skala tersebut. Tokoh yang paling berpengaruh dalam fisika kuantum adalah Richard Feynman, seorang ilmuwan lulusan California Institute of Technology. Menurut Feynman, suatu sistem tidak hanya mempunyai satu sejarah, tapi segala sejarah yang mungkin saja terjadi. Tampaknya gagasan tersebut melanggar akal sehat, tapi akal sehat hanya didasarkan pada pengalaman sehari-hari bukan dari kenyataan yang ada.

Umumnya manusia percaya bahwa segala pengetahuan di dunia dapat diperoleh melalui pengamatan langsung, dan segala yang ada pasti sesuai dengan yang ditangkap oleh panca indera kita. Tapi kesuksesan fisika modern yang didasarkan pada gagasan Feynman, menunjukkan bahwa kenyataan tidaklah demikian. Pandangan realitas berdasar panca inderapun tidak lagi cocok dengan fisika modern. Untuk menghadapi paradoks yang demikian ilmuwan bergantung pada model dependent realism. Biasanya otak kita menafsirkan masukan dari organ indra untuk membuat model dunia. Ketika model itu dapat menjelaskan peristiwa, maka kita cenderung menganggap model itu termasuk unsur dan konsep yang menyusunnya, sebagai kebenaran mutlak. Tapi bisa jadi ada macam-macam cara untuk bisa membuat model situasi fisik yang sama, menggunakan unsur dasar dan konsep yang berbeda-beda.

Jika dua model fisika sama-sama bisa memprediksi peristiwa yang sama dengan akurat, maka salah satunya tidak bisa dikatakan lebih nyata dari yang lain, justru kita bebas menggunakan model mana saja yang lebih praktis. Dalam sejarah sains, dari waktu kewaktu ilmuwan semakin menemukan model yang lebih baik, mulai dari teori Plato, Newton sampai ke teori kuantum modern. Lalu apakah urutan ini kelak mencapai ujung? yakni teori pamungkas alam semesta yang mencangkup segala gaya, prediksi tiap pengamatan, ataukan kita akan terus menemukan teori yang lebih baik tanpa akhir. Kita belum memiliki jawaban pasti tentang semua itu, tapi kita mempunyai calon teori yang bisa menjelaskan semua itu yang disebut  Teori M. Teori ini disebut teori yang bisa menjelaskan segalanya atau biasa disebut Theory of Everything.  Teori M merupakan satu-satunya model yang punya semua bagian yang dianggap harus memiliki teori pamungkas.

Menurut Teori M, alam semesta kita bukan satu-satunya Alam Semesta. Teori M justru memprediksi ada banyak sekali alam semesta yang tercipta dari ketiadaan. Penciptaan alam semesta itu tidak memerlukan campur tangan tuhan atau sosok adi alami. Sebaliknya, banyak alam semesta muncul secara alami akibat hukum fisika. Tiap alam semesta memiliki banyak kemungkinan sejarah dan kemungkinan keadaan pada masa selanjutnya, yakni pada masa seperti sekarang, setelah lama tercipta. Sebagian besar keadaan tersebut takkan mirip dengan alam semesta yang kita amati dan tidak cocok dengan bentuk kehidupan apapun. Jadi keberadaan kita memilih segelintir alam semesta yang cocok dengan  kita dari begitu banyak alam semesta yang ada. Walau kecil sekali, dalama skala jagat raya, bisa dikatakan kitalah yang menjadi penguasa ciptaan.

Untuk memahami alam semesta, dalam tingkat terdalam kita tidak hanya bertanya bagaimana tingkah laku alam semesta tapi juga harus bertanya mengapa.

Mengapa ada sesuatu, bukan ketiadaan?

Mengapa kita ada?

Mengapa ada kumpulan hukum alam tertentu,  bukan yang lain?

Itulah The Ultimate Question of Life, the Universe, and Everything. Pertanyaan pamungkas perihal hidup, alam semesta, dan segalanya.

(Sumber: Buku The Grand Design, Stephen Hawking & Leonard Mlodinow)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel